pengunjung

Flag Counter

Minggu, 17 November 2013

ANAK AUTIS BERPRESTASI

Kisah Seorang Ibu Dengan Anak Penyandang Autisme

Vemale.com - Vemale.com-



Oleh: Afiana Rohmani Abdul Kohar
Saat anak pertama saya lahir, yang ada dalam benak saya dan suami adalah kebahagiaan yang tiada tara. Fikri lahir sebagai bayi mungil yang lucu, tampan, juga sehat. Di mataku, anak laki-laki mungilku nyaris sempurna.
Namun saya sempat merasa bimbang, Fikri hampir tak pernah menangis di hari-hari pertama kelahirannya. Dia menghabiskan waktunya dengan tidur, kecuali saat mandi dan ganti popok. Bahkan untuk minum ASI pun harus saya bangunkan. Pernah setumpuk baskom jatuh tepat di depan kamar tidurnya dan menimbulkan suara keras, namun dia tetap tertidur pulas. Tak pernah saya bercanda dengannya, mendengar tangisnya atau ocehannya. Waktu itu saya menghibur diri, mungkin karena saya tinggal di Solo dengan udara yang sejuk dan lingkungannya nyaman.

penangnana masalah belajar anak autis

Penanganan Masalah Belajar Anak Autisme Melalui Pendidikan Integrasi

EmailCetakPDF
Oleh: Agus Tri Haryanto, S.Pd.
Konsultan anak berkesulitan belajar dan Pelayanan Autisme
Yayasan Wilakertia, Bintaro


Latar Belakang

Masalah Pada tahun 2005 terjadi peningkatan jumlah anak berkesulitan belajar, terutama penyandang autisme. Mengingat di Negara kita belum ada upaya yang sistimatis untuk menanggulangi kesulitan belajar anak autisme, maka diperlukan upaya untuk meningkatkan pelayanan pendidikan secara umum. Peningkatan pelayanan pendidikan itu diharapkan dapat menampung anak autisme lebih banyak serta meminimalkan problem belajar terutama pada anak-anak autisme (learning problem). Salah satu upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan dan pendidikan anak autisme diperlukan pendidikan integrasi dan implementasinya dalam bentuk group/kelas (sekolah), individu (one on one) serta pembelajaran individual melalui modifikasi perilaku.
Pendidikan Integratif
Konsep pendidikan integratif memiliki penafsiran yang bermacam-macam antara lain:
  • Menempatkan anak autisme dengan anak normal secara penuh
  • Pendidikan yang berupaya mengoptimalkan perkembangan fungsi kognitif, efektif, fisik, intuitif secara integrasi
Menurut pandangan penulis, yang di maksud dengan pendidikan integratif adalah :
  • Mengintegrasikan anak autisme dengan anak normal sepenuhnya
  • Mengintegrasikan pendidikan anak autisme dengan pendidikan pada umumnya
  • Mengintegrasikan dan mengoptimalkan perkembangan kognisi, emosi, jasmani, intuisi, pada autisme
  • Mengintegrasikan apa yang dipelajari disekolah dengan tugas masa depan
  • Mengintegrasikan manusia sebagai mahluk individual sekaligus mahluk sosial
Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa banyak anak autisme yang belajar bersama anak normal, tetapi mereka tidak memperoleh pelayanan pendidikan secara memadai atau mereka tidak mendapatkan sekolah dengan alasan yang tidak jelas. Penyebabnya adalah kurangnya sumber daya manusia dan banyak tenaga ahli yang belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang anak autisme atau rasio penyelenggaraan yang sangat mahal, sehingga masih sedikit sekolah yang mau menerima anak autisme karena berbagai alasan diatas. Menyelenggarakan pendidikan integrasi disekolah merupakan kemajuan yang baik, tetapi tidak semudah membalikkan tangan. Namun kita harus berani memulai supaya anak autisme mendapat tempat dan penanganan yang terbaik.
Dimanakah Anak Autisme Harus Sekolah
Komunitas autisme di Jakarta sudah mencapai populasi yang besar dan belum ada sisitem pendidikan yang sistematis. Kalaupun ada biayanya mahal atau belum ada sekolah yang benar-benar sesuai. Tidak ada yang salah dalam situasi ini, baik lembaga, orang tua atau para ahli, mengingat masalah autisme ini masih tergolong baru. Penulis hendak menekankan dengan pemikiran yang sederhana tentang penanganan pendidikan autisme secara benar, dapat digunakan oleh semua kalangan, serta dapat membantu memberikan gambaran anak ini akan dibawa kemana. Kondisi yang harus kita terima sangat berat pada saat anak kita divonis autisme seakan semua pintu telah tertutup, semua jalan jadi buntu, semua kesempatan sudah terlambat. Hanya mukjizat yang akan datang dari Allah. Keadaan yang berat timbul pada saat mengetahui anak kita mengalami hambatan dalam perkembangan dan pertumbuhan dan saat anak memiliki cukup umur harus masuk sekolah.

Beberapa lembaga pendidikan (sekolah) yang selama ini menerima anak autis adalah sebagai berikut;
  • Anak Autis di sekolah Normal dengan Integrasi penuh
  • Anak Autis di sekolah Khusus
  • Anak Autis di SLB
  • Anak Autis hanya menjalani terapi.
Biasanya sebelum sekolah anak-anak ini sudah mendapatkan penanganan dari berbagai ahli seperti : dokter syaraf, dokter specialis anak (Pediatri), Psikologi, Terapi wicara, OT, Fisioterapi,Orthopedagog (Guru khusus). dengan perkembangan dan perubahan sendirisendiri, ada yang maju pesat tapi ada yang sebaliknya. Menurut saya, kebanyakan orang tua penyandang autisme menginginkan sekolah sebagai status anak, tetapi jangan bersikap tidak realistis dengan tidak berbuat apa-apa karena mengintegrasikan anak autisme dengan anak normal secara penuh harus dengan suatu konsep, perhitungan yang matang dan kerja keras.

Kebanyakan sekolah juga belum memiliki jawaban yang baik untuk saat ini. Yang ada orang tua dan guru-guru sekolah harus bekerja sama, bersikap terbuka, selalu komunikasi untuk membuat perencanaan penanganan dengan tehnik terbaik. Langkah-langkah penerimaan oleh sekolah:
  • Tentukan jumlah anak autisme yang akan diterima misal, dua anak dalam satu kelas dan lain-lain.
  • Lakukan tes untuk melihat kemampuan serta menyaring anak
  • Setelah tes, wawancara orang tua untuk melihat pola pikirnya, apa tujuan memasukkan anak ke sekolah.
  • Buatlah kerangka kerja dan hasil observasi awal.
  • Susun bagaimana mengatur evaluasi anak dalam hal: siapa yang
    bertanggung jawab mengawasi, menerima complain, periode laporan perkembangan dan lain-lain.
  • Buatlah kesepakatan antara orang tua dan sekolah bahwa hasil yang dicapai adalah paling optimal.
Parameter Apakah Yang Dapat Membantu
NOEVALUASIABC
Akademis
1Berhitung 1-10, 1-20 baik dengan atau tanpa papan, irama dan dan ketukan wajar, maju dan mundur   
2Mampu mengidentifikasi dan menulis angka   
3Mengenal semua bentuk dengan cepat   
4Mengenal warna dengan cepat   
5Mampu mengenal semua bentuk huruf dengan cepat   
6Mampu mendeskripsikan suatu topik tunggal / sederhana   
7Mampu menggambarkan sederhana   
8Mampu mengingat 2-3 digit, membedakan benda yang sejenis   
9Mampu memilih obyek dan gambar yang hampir sama   
10Mampu mengenal simbol-simbol sederhana   
11Bahasa yang dia pakai dapat kita mengerti atau sebaliknya   
12Mampu membedakan arak kiri, kanan, atas, dan bawah   
13Memberikan jumlah yang kita minta antara 1-9   
Ketrampilan sosial dan tingkah laku
1Prilaku kontrol diri dalam lingkungan   
2Kontak mata   
3Perhatian dan Konsentrasi   
4Kemampuan Mendengarkan   
5Diam dan Menunggu   
6Berbagi giliran dengan teman   
7Berkunjung ( Visiting)   
8Mengirim Pesan sederhana   
9Menjawab Pertanyaan sederhana yang berhubungan dengan identitas dirinya   
10Merespon perintah sederhana yang familiar dan sering digunakan dalam aktivitas sehari- hari   
11Mengenal orang dan tempat yang familiar   
Keterampilan Berkomunikasi
1Kemampuan dasar berinisiatif   
2Mampu mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan dasar anak   
3Menyatakan ya atau tidak yang berhubungan dengan pribadi anak   
4Kemampuan memilih   
Pelaksanaan Aktivitas sehari-hari
1Toilet raining   
2Makan dengan sendok dan garpu   
3Mampu memakai celana, jaket, baju, sepatu tanpa bantuan   
4Mengancingkan baju   
5Merawat dan memperhatikan barang sendiri   
6Mandi dan menggosok gigi   

Keterangan:

A: Mampu / Mandiri/ excellent
B: di arahkan/ dibantu minimal
C: di bantu penuh
Jika anak kita (Autis) menguasai ketrampilan antara
- A = 25 < 34 Termasuk anak yang ringan (mild)/High Function
- A = 15 < 24 Termasuk anak yang sedang/sedang (Severed)
- A Kurang dari 15 Termasuk anak yang berat (Low Function)
Dengan parameter diatas kita akan mampu mengidentifikasi anak-anak dengan lebih akurat, bukan menitik beratkan pada berat dan ringan kondisi anak, akan tetapi untuk memudahkan pihak-pihak yang bersangkutan dan orang tua agar mengerti apa yang harus dilakukan, guru mampu membuat program dengan akurat untuk anak, lembaga dapat menyeleksi anak sesuai kapasitas dan kebutuhan. Anak-anak autis ringan seperti: asperger, ADHD, ADD, memungkinkan untuk di intergrasikan penuh dengan anak normal karena biasanya anak- anak ini memiliki kecerdasan dan kemampuan yang cukup.

penanganan anak autis

Tujuan dari penanganan pada penyandang autisme adalah:
a. Membangun komunikasi dua arah yang aktif,
b. Mampu melakukan sosialisasi ke dalam lingkungan yang umum dan bukan hanya dalam lingkungan keluarga,
c. Menghilangkan dan meminimalkan perilaku tidak wajar,
d. Mengajarkan materi akademik, serta
e. Meningkatkan kemampuan Bantu diri atau bina diri dan keterampilan lain.

Hal terpenting yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah menemukan program intervensi dini yang baik bagi anak autis. Tujuan pertama adalah menembus tembok penghalang interaksi sosial anak dan menitikberatkan komunikasi dengan orang lain melalui cara menunjuk jari, menggunakan gambar dan kadang bahasa isyarat serta kata-kata. Program intervensi dini menawarkan pelayanan pendidikan dan penanganan untuk anak-anak berusia dibawah 3 tahun yang telah didiagnosis mengalami ketidakmampuan fisik atau kognitif.
Beberapa Jenis terapi yang bisa dilakukan pada anak autisme adalah sebagai berikut:
a. Terapi perilaku
1) Terapi okupasi – Terapi okupasi dilakukan untuk membantu menguatkan, memperbaiki koordinasi dan keterampilan otot pada anak autis.
2) Terapi wicara – Terapi wicara (speech therapy) merupakan suatu keharusan, karena anak autis mempunyai keterlambatan bicara dan kesulitan berbahasa.
3) Sosialisasi dengan menghilangkan perilaku yang tidak wajar
b. Terapi biomedik
Pada masa remaja, beberapa perilaku agresif bisa semakin sulit dihadapi dan sering menimbulkan depresi. Kadang obat-obatan bisa membantu meskipun tidak dapat menghilangkan penyebabnya. Haloperidol terutama digunakan untuk mengendalikan perilaku yang sangat agresif dan membahayakan diri sendiri. Fenfluramin, buspiron, risperidon dan penghambat reuptake serotonin selektif (fluoksetin, paroksetin dan sertralin) digunakan untuk mengatasi berbagai gejala dan perilaku pada anak autis.
c. Sosialisasi ke sekolah reguler – Anak autis yang telah mampu bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik dapat dicoba untuk memasuki sekolah formal sesuai dengan umurnya dengan tidak meninggalkan terapi perilakunya.
d. Sekolah (Pendidikan) Khusus – Pada sekolah (pendidikan) khusus ini dikemas khusus untuk penyandang autis yang meliputi terapi perilaku, wicara dan okupasi, bila perlu dapat ditambahkan dengan terapi obat-obatan, vitamin dan nutrisi yang memadai.
Program pendidikan untuk anak autis sangat terstruktur, menitikberatkan kepada kemampuan berkomunikasi dan sosialisasi serta teknik pengelolaan perilaku positif. Strategi yang digunakan di dalam kelas sebaiknya juga diterapkan di rumah sehingga anak memiliki lingkungan fisik dan sosial yang tidak terlalu berbeda.  Dukungan pendidikan seperti terapi wicara, terapi okupasional dan terapi fisik merupakan bagian dari pendidikan di sekolah anak autis. Keterampilan lainnya, seperti memasak, berbelanja atau menyebrang jalan, akan dimasukkan ke dalam rencana pendidikan individual untuk meningkatkan kemandirian anak. Tujuan keseluruhan untuk anak adalah membangun kemampuan sosial dan berkomunikasi sampai ke tingkat tertinggi atau membangun potensinya yang tertinggi.

terapi untuk autis

Terapi pada dasarnya perlu diberikan untuk membangun kondisi yang lebih baik. Terapi juga harus rutin dilakukan agar apa yang menjadi kekurangan anak dapat dipenuhi secara bertahap. Terapi juga harus diberikan sedini mungkin sebelum anak berusia 5 tahun. Sebab, perkembangan pesat otak anak umumnya terjadi pada usia sebelum 5 tahun, tepatnya puncak pada usia 2-3 tahun. Beberapa terapi yang ditawarkan oleh para ahli adalah :
  • Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam Defeat Autism Now . Pada terapi ini difokuskan pada pembersihan fungsi-fungsi abnormal pada otak. Dengan terapi ini diharapkan fungsi susunan saraf pusat bisa bekerja lebih baik sehingga gejala autism berkurang atau bahkan menghilang. Obat-obatan juga digunakan untuk penyandang autism, namun harus dengan pengawasan dokter spesialis yang lebih memahami dan mempelajari autism. Terapi biomedik melengkapi terapi lainnya dengan memperbaiki dari dalam (biomedis). Dan juga didukung oleh terapi dari dalam dan luar diri agar mengalami kemajuan yang cukup bagus.
  • Terapi Okupasi
Terapi okupasi berguna untuk melatih otot-otot halus anak. Menurut penelitian, hamper semua kasus anak autistic mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya sangat kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang benda dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya,dsb. Dengan terapi ini anak akan dilatih untuk membuat semua otot dalam tubuhnya berfungsi dengan tepat.
  • Terapi Integrasi Sensoris
Terapi ini berguna meningkatkan kematangan susunan saraf pusat, sehingga lebih mampu untuk memperbaiki struktur dan fungsinya. Aktivitas ini merangsang koneksi sinaptik yang lebih kompleks, dengan demikian bisa meningkatkan kapasitas untuk belajar.
  • Terapi Bermain
Terapi bermain adalah pemanfaatan pola permainan sebagai media yang efektif dari terapis, melalui kebebasan eksplorasi dan ekspresi diri. Pada terapi ini, terapis bermain menggunakan kekuatan terapiutik permainan untuk membantu klien menyelesaikan kesulitan-kesulitan psikososial dan mencapai pertumbuhan, perkembangan yang optimal.
  • Terapi Perilaku
Terapi ini memfokuskan penanganan pada pemberian reinforcement positif setiap kali anak berespons benar sesuai intruksi yang diberikan. Tidak ada punishment dalam terapi ini, akan tetapi bila anak menjawab salah akan mendapatkan reinforcement positif yang ia sukai. Terapi ini digunakan untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan anak pada aturan. Dari terapi ini hasil yang didapatkan signifikan bila mampu diterapkan secara intensif.
  • Terapi Fisik
Beberapa penyandang autism memiliki gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya juga kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-otot dan memperbaiki keseimbangan tubuh anak.
  • Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan asutism mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai kemampuan bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain.
  • Terapi Musik
Terapi music menurut Canadian Association for Music Therapy (2002) adalah penggunaan music untuk membantu integrasi fisik, psikologis, dan emosi individu, serta untuk treatment penyakit atau ketidakmampuan. Sedangkan menurut American Music Therapy Association (2002) terapi music adalah semacam terapi yang menggunakan music yang bersifat terapiutik guna meningkatkan fungsi perilaku, social, psikologis, komunikasi, fisik, sensorik motorik dan kognitif.
  • Terapi Perkembangan
Terapi ini didasari oleh adanya keadaan bahwa anak dengan autis melewatkan atau kurang sedikit bahkan banyak sekali kemampuan bersosialisasi.yang termasuk terapi perkembangan misalnya Floortime, dilakukan oleh orang tua untuk membantu melakukan interaksi dan kemampuan bicara.
  • Terapi Visual
Individu autistic lebih mudah belajar dengan melihat. Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar berkomunikasi melalui gambar-gambar. Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan keterampilan komunikasi.
  • Terapi Medikamentosa
Disebut juga terapi obat-obatan. Terapi ini dilakukan dengan pemberian obat-obatan oleh dokter yang berwenang. Para penyandang jangan diberi sembarang obat, tapi obat harus diberikan bila timbul indikasi kuat. Gejala yang sebaiknya dihilangkan dengan obat : hiperaktivitas yang hebat, menyakiti diri sendiri, menyakiti orang lain (agresif), merusak (destruktif), dan gangguan tidur.
  • Terapi Melalui Makanan
Terapi melalui makanan diberikan untuk anak-anak dengan masalah alergi makanan tertentu. Di sisi lain, ada bebrapa makanan yang mengandung zat yang dapat memperberat gejala autis pada anak. Dalam terapi ini diberikan solusi tepat bagi para orang tua untuk menyiasati menu yang cocok dan sesuai bagi putra-putrinya sesuai dengan petunjuk ahli mengenai gizi makanan.

pembelajaran untuk anak autis

Anak autis dicirikan oleh tiga karakteristik utama (a triad of impairment) yaitu: gangguan komunikasi, gangguan hubungan sosial dan gangguan perilaku: minat yang terbatas dan perilaku berulang. ( Wing and Gould,1979, dalam Dodd, 2007).
1. Hambatan komunikasi (communication impairment), termasuk semua aspek komunikasi: pemahaman dan menggunakan komunikasi verbal dan non verbal untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Anak dengan gangguan autistic kebanyakan tidak bisa bicara, dan mereka tidak bisa mengkompensasikan ketidakmampuan bicaranya dengan bahasa lain seperti bahasa isyarat. Kalaupun ada anak dengan gangguan autistik bisa bicara, mereka hanya membeo, atau mereka berbicara tetapi kurang dapat memiliki pemaknaan tentang apa yang mereka ucapkan, sehingga kesannya hanya menghafal.
2. Hubungan sosial (social relating), anak dengan gangguan autistik memiliki hambatan tentang bagaimana berinteraksi atau berhubungan dengan orang lain, termasuk keterampilan seperti berbagi (sharing) dan bergiliran (turn taking), mengerjakan tugas (attending to task). Anak dengan gangguan autistik memiliki kesulitan yang besar untuk belajar memberi dan menerima (take and give) dalam hubungan interaksi dengan orang disekelilingnya. Mereka tampak tidak tertarik untuk berinteraksi dengan orang lain, dan mereka nampak lebih suka menyendiri. Banyak anak dengan gangguan autistic spectrum disorders nampak memiliki kesulitan besar untuk belajar memberi dan mengambil (take and give) dalam interaksi sehari-hari. Tidak suka dipeluk dan dipangku.
3. Minat yang terbatas dan perilaku berulang (repetitive), ini diperlihatkan dengan kurang dapat berimajinasi, penalaran abstrak yang kurang, keterampilan bermain terbatas, pemikiran konkret (ini lebih disebabkan anak kurang mampu dalam penalaran secara abstrak) dan keinginan kuat dalam keteraturan (consistency).
Selain tiga ciri utama di atas saat ini sejumlah ciri-ciri yang berhubungan dengan pemahaman dan perhatian autisme juga ditambahkan, ini termasuk: sensitivitas sensori, aspek-aspek kognisi termasuk: gaya belajar visual, masalah perhatian, dan karakteristik pemrosesan informasi; dan hambatan dalam empati yang meliputi: masalah emosional, joint attentiontheory of mind; dan kesulitan penerjemahan mood dan perilaku orang lain. (Dodd, 2007:3-5).
Memahami anak autis ini sangat penting untuk menentukan hambatan dan kebutuhan mereka dan melihat tipe belajar mereka. Anak-anak autis memiliki hambatan dalam eye gaze, meniru (attending), pemahaman makna, membuat generalisasi (generalization), pemrosesan auditori, pemrosesan sensori, mengurutkan dan kemampuan kognitif dalam urutan yang lebih tinggi. (Dodd, 2007, 148 -149).
Disampaing hambatan utama seperti diuraikan di atas, anak autis pun memiliki beberapa kekuatan diantaranya: kemampuan rote memory, kemampuan visual spatial, kemampuan compartmentalised chunk learning, kecenderungan untuk melakukan rutinitas dan aturan yang terstruktur (Dodd, 2007, 148 - 149).
B.  MODEL PEMBELAJARAN ANAK AUTIS
Model pembelajaran diartikan sebagai sutau prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. (Belajar Psikologi.com, 2011). Model pembelajaran dapat juga bermakna cara yang digunakan guru untuk membelajarkan anak supaya tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan tercapai. Didalam model pembelajaran terkandung pendekatan, strategi, metode dan teknik yang digunakan untuk membelajarkan siswa. Model pembelajaran yang baik adalah model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa (kemampuan, kebutuhan dan hambatan, dan lain sebagainya).
Ada beberapa ciri-ciri model pembelajaran secara khusus diantaranya adalah :
1. Rasional teoritik yang logis yangdisusun oleh para pencipta atau pengembangnya.
2. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar.
3. Tingkah laku mengajar yang diperlukanagar model tersebut dapat dilaksanakandengan berhasil.
4. Lingkungan belajar yang duperlukanagar tujuan pembelajaran dapat tercapai. (Belajar Psikologi.com, 2011)
Untuk anak-anak berkebutuhan khusus, khususnya anak autis, memilih model pembelajaran itu harus menjadi pemikiran yang benar-benar sesuai dengan kondisi siswa. Ada beberapa pertimbangan yang menjadi dasar seorang guru untuk menentukan model pembelajaran untuk anak autis diantaranya adalah hambatan utama yang dialami oleh siswa dan pemahaman tentang gaya belajar anak.
Belajar adalah perubahan perilaku sebagai akibat dari interaksi anak dengan lingkungannya. Ada beberapa cara untuk membantu anak autis mempelajari keterampilan dan perilaku baru, diantaranya: isyarat visual/ verbal, modelling, visual support, prompting, fading, shaping dan chaining (Dodd, 2007).
1. Isyarat visual / verbal
Isyarat visual/ verbal adalah pengajaran yang diberikan pada anak autis untuk membantu mereka melengkapi tugas-tugas yang diinginkan. Ini mungkin dilakukan dengan cara non verbal atau verbal, dengan menggunakan tanda manual atau startegi visual (Dodd, 2007). Strategi visual merupakan strategi pembelajaran dengan menggunakan benda-benda konkrit atau semi konkret atau simbol-simbol dalam menyampaikan pembelajaran.
2. Pemodelan (Modelling)
Pemodelan merupakan strategi pembelajaran yang menggunakan orang tua atau teman sebaya untuk menjadi model, terutama ketika mengajarkan keterampilan-keterampilan baru.
3. Visual support
Visual support digunakan untuk meningkatkan komunikasi, mentransfer informasi, perilaku dan mengembangkan kemandirian. Ini termasuk daftar visual (jadwal), urutan suatu pekerjaan, ekspresi wajah, gestures dan bahasa tubuh.
4. Prompting
Promting merupakan isyarat tambahan untuk membantu memfasilitasi respon yang benar. Individu membutuhkan bimbingan secara fisik untuk mengerjakan tugas. Memberikan dorongan secara fisik sering menjamin keberhasilan individu. Reinforcment harus segera diberikan apabila anak selesai mengerjakan tugas mandirinya.
5. Fading
Fading merupakan pengurangan bantuan secara sistematis. Pengurangan bantuan fisik secara bertahap. Teknik ini berhasil dalam mengajarkan keterampilan baru. Pengurangan ini sangat penting supaya anak tidak tergantung pada bantuan dan isyarat.
6. Shaping
Perilaku terkadang dapat dibentuk sesuai dengan tujuan yang diharapkan atau yang ingin dicapai. Shaping merupakan prosedur yang digunakan untuk mengembangkan keterampilan atau perilaku yang tidak ada pada diri seseorang. Shaping biasanya digunakan untuk mengjarkan keterampilan-keterampilan yang sulit seperti memakai baju, makan dan bersosialisasi dengan orang lain. (Dodd, 2007)
7. Chainning
Chainning adalah menciptakan perilaku yang rumit dengan menggabungkan perilaku-perilaku sederhana yang telah menjadi bagian dalam diri seseorang. Contohnya dalam menyikat gigi: pertama menyimpan pasta gigi pada sikat gigi, kemudian memasukkan sikat gigi ke mulut dan kemudian mulai menggosok gigi ke atas ke bawah, kesamping kiri dan kanan dan seterusnya.
C.  KESIMPULAN
Anak autis memiliki hambatan dalam interaksi dan komunikasi sosial, tapi mereka memiliki kekuatan dalam kemampuan visualnya dan belajar hafalan, oleh karena itu ketika mengajar anak autis, yang penting guru harus memahami kekuatan yang dimiliki oleh anak. Banyak model dan strategi pembelajaran yang digunakan untuk mengajar mereka diantaranya adalah menggunakan dukungan visual, modelling, prompting, fading, shaping dan chainning. Seseorang akan belajar lebih baik apabila seorang guru memiliki keteraturan, konsisten dan positif. (Dodd, 2007).
Pembelajaran untuk anak autis harus diatur, dipersiapkan kemudian tujuan yang ingin dicapai harus realistis. Harus konsisen ketika membuat aturan. Kemudian menggunakan bahasa sederhana, tidak banyak kata-kata yang akan membuat anak bingung, dan ketika anak melakukan sesuatu yang positif guru segera untuk memberikan reinforcement.

Pages

Sample Text

Diberdayakan oleh Blogger.

Ads 468x60px

Social Icons

Featured Posts